BerandaPendidikanInovasi Mahasiswa ULM: Sensor...

Inovasi Mahasiswa ULM: Sensor IoT Jadi Alarm Dini Banjir Kilat di Cempaka

Terbaru

Banjarbaru – Upaya mitigasi bencana kini tak lagi sekadar imbauan, tetapi mulai diwujudkan dalam inovasi teknologi berbasis kebutuhan lapangan. Hal ini terlihat dari langkah mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang menghadirkan sistem peringatan dini banjir kilat berbasis Internet of Things (IoT) di Kelurahan Cempaka, Kota Banjarbaru.

Program bertajuk Mitigasi Banjir Kilat melalui Penerapan Water Level Sensor Berbasis IoT untuk Early Warning System ini dijalankan oleh 15 mahasiswa lintas disiplin dari Fakultas MIPA, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Kegiatan tersebut dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan, M. Ikhwan Najmi, S.Pd., M.Si.

Ketua tim, Muhammad William Sabili, menjelaskan bahwa inovasi ini dirancang untuk menjawab kerentanan wilayah Cempaka terhadap banjir kilat. Melalui perangkat sensor berbasis IoT, warga dapat memantau kenaikan permukaan air secara real-time.

“Kami mengembangkan alat dengan sensor jarak JSN dan water level sensor yang mampu mendeteksi perubahan debit air. Informasi ini bisa menjadi peringatan awal bagi masyarakat agar lebih sigap melakukan antisipasi,” jelasnya.

Tak hanya fokus pada teknologi, mahasiswa juga mengedepankan pendekatan edukatif. Penyuluhan kebencanaan dilakukan kepada warga, termasuk perangkat RT dan RW, guna meningkatkan pemahaman terkait mitigasi banjir. Metode pre-test dan post-test yang digunakan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan masyarakat.

Sebagai bentuk aksi nyata di lapangan, tim turut menginisiasi kegiatan gotong royong bersama warga di kawasan Sungai Kertak Baru. Selain itu, mereka juga menyerahkan bantuan tempat sampah dari dana program MBKM untuk mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Seluruh rangkaian kegiatan diawali dengan identifikasi masalah bersama masyarakat, sehingga solusi yang dihadirkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan lokal. Pendekatan ini menjadi kunci keberhasilan program, yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga kolaborasi sosial.

Program ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Mereka mengintegrasikan keilmuan teknologi sensor, manajemen program, hingga edukasi kesehatan masyarakat, sekaligus mengasah kemampuan komunikasi, kerja tim, dan pemecahan masalah secara langsung.

ULM menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan program serupa melalui integrasi dalam skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan pengabdian masyarakat. Inovasi berbasis riset yang berdampak langsung bagi masyarakat akan terus didorong sebagai bagian dari peran perguruan tinggi dalam menghadapi tantangan kebencanaan.

Melalui Program Bina Desa Berdampak, mahasiswa ULM tidak hanya hadir sebagai pelaksana kegiatan, tetapi juga sebagai mitra solusi yang membawa perubahan nyata—menghubungkan teknologi, edukasi, dan kepedulian sosial dalam satu gerakan mitigasi bencana yang berkelanjutan.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka