BATULICIN – Buah mangrove jenis Rhizophora yang tumbuh di pesisir Desa Angsana, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, diperkenalkan mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sebagai bahan minuman kopi alternatif.
Inovasi tersebut dibawa Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup (KKNT-LH) ULM Kelompok 2 melalui kegiatan edukasi kepada masyarakat pesisir Desa Angsana, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan yang diikuti lebih dari 20 peserta tersebut melibatkan ibu-ibu PKK dan anggota karang taruna. Selain memperkenalkan cara pemanfaatan buah mangrove, mahasiswa juga mengajak masyarakat melihat peluang ekonomi yang dapat dikembangkan tanpa mengabaikan kelestarian ekosistem pesisir.
Koordinator Kelompok 2 KKNT-LH ULM, Ahmad Ryan Faizal, mengatakan ide pengembangan kopi mangrove berawal dari keinginan memanfaatkan potensi lokal yang selama ini belum banyak digunakan.
Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Program Studi Ilmu Komputer itu menjelaskan, awalnya kelompok mereka berencana mengembangkan produk sirup mangrove. Namun setelah mengidentifikasi jenis mangrove yang tumbuh di Angsana, mereka menemukan buah Rhizophora yang berpotensi diolah menjadi minuman alternatif.
“Awalnya kami merencanakan sirup mangrove, tetapi setelah melihat jenis mangrove yang tumbuh di Angsana, kami menemukan buah Rhizophora yang ternyata bisa dijadikan kopi,” ujarnya.
Menurut Ryan, bahan yang digunakan berupa buah mangrove yang telah jatuh secara alami. Buah tersebut dipilih karena dinilai memiliki kandungan getah lebih sedikit dan rasa yang lebih kuat.
Proses pengolahannya dimulai dengan membelah buah untuk mengambil biji. Biji kemudian dipotong menjadi bagian-bagian kecil, direndam selama satu hingga dua minggu untuk mengurangi getah, lalu dikeringkan selama tiga hingga empat hari.
Setelah kering, bahan tersebut disangrai hingga mengeluarkan aroma yang menyerupai kopi dan selanjutnya dapat diolah menjadi minuman.
Ryan mengatakan, kelompoknya telah mencoba produk tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa produk kopi mangrove yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut belum melalui pengujian resmi pemerintah.
“Kelompok kami sudah mencoba minum kopi mangrove ini, dan di beberapa tempat produk serupa sudah dipasarkan. Namun untuk tes resmi dari pemerintah memang belum ada,” jelasnya.
Dalam kegiatan edukasi, mahasiswa tidak melakukan praktik pengolahan secara langsung bersama masyarakat. Sebagai gantinya, mereka menyiapkan video yang memperlihatkan tahapan pembuatan kopi mangrove.
Metode tersebut ternyata mampu menarik perhatian peserta. Lebih dari 15 pertanyaan muncul dalam sesi diskusi, mulai dari rasa, proses pengolahan, keamanan konsumsi hingga peluang pengembangan menjadi produk usaha.
Ibu-ibu PKK menjadi kelompok yang paling aktif menggali informasi mengenai inovasi tersebut.
“Karena kopi mangrove ini masih baru, masyarakat pesisir Angsana sangat tertarik. Mereka melihatnya sebagai inovasi yang berbeda dan berpotensi dikembangkan,” kata Ryan.
Namun, mahasiswa juga mengingatkan bahwa pemanfaatan buah mangrove harus tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem. Pengambilan buah tidak boleh dilakukan secara berlebihan karena kawasan mangrove memiliki fungsi penting bagi lingkungan pesisir.
“Pemanfaatan sumber daya alam harus dikontrol. Bukan berarti semua buah harus diambil. Sewajarnya saja dan secukupnya. Kalau sudah habis, jangan dipaksa,” tegasnya.
Menurut Ryan, inovasi tersebut bukan dimaksudkan untuk mendorong eksploitasi mangrove, melainkan memperkenalkan alternatif pemanfaatan buah yang selama ini belum banyak dimanfaatkan masyarakat.
Ia melihat hutan mangrove di Angsana memiliki potensi yang jauh lebih besar. Selain berfungsi sebagai pelindung pesisir dari abrasi, kawasan tersebut juga berpeluang dikembangkan menjadi sumber produk bernilai ekonomi sekaligus destinasi wisata.
“Selama ini kita tahu mangrove hanya mencegah abrasi. Padahal buahnya bisa digunakan, bahkan bisa dikembangkan menjadi produk pangan seperti kopi atau sirup,” ujarnya.
Ryan juga menilai kawasan mangrove Angsana memiliki daya tarik wisata yang cukup menjanjikan.
“Saya berharap suatu saat hutan mangrove Angsana bisa menjadi objek wisata. Tempatnya sejuk dan bagus untuk jalan-jalan,” katanya.
Melalui inovasi kopi mangrove, mahasiswa berharap masyarakat Desa Angsana semakin mengenal potensi yang ada di lingkungan mereka sekaligus memiliki kesadaran untuk menjaga keberlanjutannya.
“Kami ingin meninggalkan sesuatu yang berbeda selama KKN, yang bisa dijalankan oleh pemerintah desa dan masyarakat,” ujar Ryan.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa program KKN tidak hanya menjadi sarana mahasiswa berbagi pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menghadirkan gagasan yang dapat dikembangkan masyarakat sesuai potensi daerah.
Kelompok 2 KKNT-LH ULM terdiri dari 16 mahasiswa lintas fakultas, yakni Ahmad Ryan Faizal (FMIPA, Ilmu Komputer), Andini Prasetya Ningrum (FMIPA, Farmasi), Candra Permana (FMIPA, Ilmu Komputer), Cindy Meiliawan dan Kezia Atalia Samosir (FPIK, Manajemen Sumberdaya Perairan), Dakin Lukas Pangestu Asi Gultom dan Tania Yuanda (Fakultas Kehutanan), Hamdi Fansuri dan Laili Maulida (FPIK, Ilmu Kelautan), Irfi Yusroini Pribadi (FMIPA, Biologi), Meita Amelia Putri (FPIK, Teknologi Hasil Perikanan), Muhammad Syarif (FPIK, Perikanan Tangkap), Nur Zahwa (FPIK, Sosial Ekonomi Perikanan), Prischilia Agnes Patila (Fakultas Teknik, Teknik Lingkungan), serta Rahdatia Silva dan Wahid Nor Raihan (FPIK, Akuakultur).

