RANTAU – Setiap bulan Juni diperingati secara global sebagai Pride Month atau Bulan Kebanggaan bagi komunitas LGBTQ+ sebagai momentum kampanye kesetaraan dan peningkatan kesadaran terhadap isu keberagaman gender dan orientasi seksual.
Di tengah momentum tersebut, Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Tapin menilai pentingnya penguatan nilai keluarga, pendidikan karakter, dan pembinaan generasi muda sesuai norma yang berkembang di masyarakat.
Ketua FPK Kabupaten Tapin, Karliansyah, mengatakan perkembangan isu sosial yang semakin mudah diakses melalui teknologi digital perlu disikapi secara bijak melalui pendekatan edukatif dan penguatan lingkungan keluarga.
Menurutnya, keluarga tetap menjadi ruang pertama dalam membentuk karakter, pola pikir, serta nilai kehidupan anak sejak usia dini.
“Perkembangan informasi sekarang sangat cepat dan terbuka. Karena itu keluarga, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan harus semakin aktif memberikan pendampingan kepada generasi muda,” ujarnya.
Karliansyah menilai berbagai fenomena sosial yang berkembang di masyarakat, termasuk yang ramai dibahas di ruang digital, perlu dijadikan momentum untuk memperkuat pendidikan karakter dan ketahanan keluarga.
Ia menekankan bahwa pendekatan pembinaan tidak cukup dilakukan melalui larangan semata, tetapi perlu dibangun melalui komunikasi yang sehat, edukasi, dan pendampingan yang berkelanjutan.
“Orang tua perlu hadir lebih dekat dengan anak, memahami lingkungan pergaulan dan aktivitas digital mereka, serta memberikan pemahaman sesuai nilai agama, budaya, dan norma sosial yang berlaku di masyarakat,” katanya.
FPK Tapin juga mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam memperkuat pembinaan generasi muda.
Menurut Karliansyah, setiap unsur memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan sosial dan membentuk generasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Selain menjalankan fungsi pembauran kebangsaan, FPK Tapin selama ini juga aktif melakukan sosialisasi terkait penguatan wawasan kebangsaan, ketahanan sosial budaya, serta edukasi pencegahan berbagai persoalan remaja.
Namun demikian, ia mengakui pelaksanaan sejumlah program pembinaan masih menghadapi keterbatasan dukungan anggaran.
“Kami berharap pembinaan kepada generasi muda menjadi gerakan bersama, bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Semakin kuat keluarga dan lingkungan sosial, semakin kuat pula fondasi generasi ke depan,” jelasnya.
Ia juga mengusulkan adanya wadah kolaboratif yang melibatkan pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta instansi terkait agar pembinaan terhadap anak dan remaja dapat dilakukan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
“Tujuan akhirnya adalah membentuk generasi Tapin yang berkarakter, memiliki ketahanan sosial yang baik, dan tetap berpegang pada nilai agama, budaya, serta semangat kebangsaan,” pungkasnya.

