Kasus Campak di Banjarbaru Meningkat Pasca Lebaran, Cakupan Imunisasi Rendah Jadi Sorotan
Banjarbaru — Kasus suspek campak di menunjukkan tren peningkatan pasca momentum Lebaran 2026. Lonjakan kasus bahkan tercatat mencapai puncaknya pada minggu ke-10, sebelum kembali menurun pada minggu berikutnya.
Berdasarkan data Surveilans Kesehatan Daerah (SKDR), pada minggu ke-9 tercatat sebanyak 2 kasus suspek campak dengan rentang usia penderita antara 8 bulan hingga 22 tahun. Angka tersebut meningkat tajam menjadi 7 kasus pada minggu ke-10 dengan rentang usia 10 bulan hingga 46 tahun.
Memasuki minggu ke-11, jumlah kasus menurun menjadi 3 kasus dengan rentang usia 5 bulan hingga 19 tahun.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Banjarbaru, dr. Siti Ningsih, menyebutkan lonjakan kasus tersebut kemungkinan besar dipicu oleh tingginya mobilitas dan interaksi masyarakat selama perayaan Lebaran.
“Puncak kasus terjadi pada minggu ke-10, kemungkinan besar berkaitan dengan tingginya mobilitas dan kerumunan masyarakat selama Lebaran,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (26/03/2026).
Secara epidemiologis, kondisi ini mengindikasikan adanya peningkatan penularan dalam periode pasca hari raya. Distribusi kasus yang mencakup berbagai kelompok usia, mulai dari bayi hingga orang dewasa, menunjukkan rendahnya kekebalan kelompok (herd immunity) di masyarakat.
Hal ini diperkuat dengan masih rendahnya cakupan imunisasi measles-rubella (MR) di Banjarbaru. Hingga Februari 2026, cakupan imunisasi MR dosis pertama (MR1) baru mencapai 13 persen, sementara cakupan imunisasi lengkap berada di angka 12,3 persen.
“Cakupan imunisasi yang rendah menjadi faktor utama tingginya risiko penularan. Ini juga membuka peluang terjadinya kejadian luar biasa (KLB) campak,” jelasnya.
Dari sisi penularan, virus campak dikenal sangat mudah menyebar dengan angka reproduksi dasar (R₀) berkisar antara 12 hingga 18. Artinya, satu penderita dapat menularkan virus kepada 12 hingga 18 orang lain, terutama pada populasi yang belum memiliki kekebalan.
Kelompok yang paling rentan meliputi bayi yang belum mendapatkan imunisasi, serta anak-anak dan orang dewasa dengan imunisasi yang belum lengkap. Selain itu, faktor lingkungan seperti kerumunan saat Lebaran, mobilitas tinggi, serta kontak erat antar keluarga turut mempercepat penyebaran.
Kombinasi faktor tersebut dinilai memicu transmisi cepat dan terbentuknya klaster kasus lintas usia. Meski terjadi penurunan pada minggu ke-11, kondisi ini masih berpotensi berkembang apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Berdasarkan data kumulatif hingga minggu ke-10 (14 Maret 2026), dari laporan 10 puskesmas dan 9 rumah sakit di Banjarbaru, tercatat sebanyak 60 orang mengalami gejala campak. Dari jumlah tersebut, 22 spesimen telah diperiksa di laboratorium dengan hasil 29 kasus suspek, 3 kasus terkonfirmasi positif campak, dan 19 kasus dinyatakan discarded.
Pemerintah daerah pun didorong untuk memperkuat langkah antisipasi, mulai dari peningkatan surveilans, penyelidikan epidemiologi, hingga pelaksanaan imunisasi respons secara cepat guna mencegah penyebaran lebih luas.
Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk tetap waspada namun tidak panik. Campak merupakan penyakit akibat virus yang umumnya dapat sembuh dengan sendirinya (self-limiting disease), terutama jika daya tahan tubuh dalam kondisi baik.
“Jika ada anggota keluarga yang terkena campak, sebaiknya batasi kontak dengan orang lain agar tidak menularkan. Jaga daya tahan tubuh dengan istirahat cukup dan asupan gizi yang baik,” tambahnya.
Selain itu, masyarakat yang belum melengkapi imunisasi disarankan segera melakukannya sebagai langkah perlindungan utama.
“Imunisasi berfungsi membentuk kekebalan tubuh sehingga dapat mengurangi risiko penularan maupun keparahan penyakit jika terpapar,” tutupnya.
