Banjarbaru – Permasalahan sampah plastik yang selama ini menjadi ancaman serius bagi lingkungan mulai menemukan solusi inovatif melalui pengembangan teknologi daur ulang oleh Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Melalui inovasi tersebut, berbagai jenis plastik residu yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan akhir kini diolah menjadi beragam produk furnitur dan perlengkapan publik yang kokoh serta bernilai ekonomi tinggi.
Langkah ini tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga membuktikan bahwa limbah anorganik dapat diubah menjadi produk fungsional dan estetis.


Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah pemanfaatan plastik residu dalam jumlah besar untuk memproduksi kursi taman dan fasilitas sanitasi. Satu set kursi taman berukuran 150 sentimeter, misalnya, mampu menyerap hingga 250 kilogram sampah plastik.
Sementara itu, satu unit toilet portabel bahkan dapat menghabiskan sekitar 350 kilogram limbah plastik, menunjukkan potensi besar dalam menekan penumpukan sampah melalui produksi infrastruktur berbasis daur ulang.
Tak hanya itu, inovasi juga merambah sektor industri dan pertanian, seperti pembuatan palet forklift berbahan plastik daur ulang yang mampu menahan beban hingga 2 ton, dengan harga yang kompetitif di pasaran.
ULM juga mengembangkan komposter aerob dari bahan plastik daur ulang, yang berfungsi mengolah sampah organik. Inovasi ini menciptakan siklus pengelolaan limbah yang berkelanjutan, dari sampah menjadi produk, lalu kembali dimanfaatkan untuk mengolah sampah lainnya.
Beragam produk lain seperti kursi stool, set meja warung, hingga bak komposter berukuran besar turut dihasilkan. Materialnya yang tahan cuaca dan tidak mudah lapuk dibandingkan kayu konvensional membuat produk ini berpotensi menjadi tren baru dalam industri furnitur ramah lingkungan.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ULM, Prof. Sunardi, S.Si., M.Sc., Ph.D., menyebut inovasi ini merupakan bagian dari visi besar kampus dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang tuntas.
“Harapannya tidak ada sampah dari internal kampus yang keluar. Selain pemilahan dan pengolahan sampah organik menjadi kompos, kami juga fokus mengonversi sampah plastik low value atau residu yang tidak memiliki nilai ekonomi,” ujarnya kepada awak media, Senin (6/4/2026).
Inovasi ini menjadi bukti bahwa dengan pemanfaatan teknologi dan kreativitas, persoalan sampah plastik tidak hanya dapat diatasi, tetapi juga diubah menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan.
