BANJARBARU – Nanang dan Galuh Kalimantan Selatan (Kalsel) diharapkan tidak sekadar menjadi duta budaya yang menyandang gelar, tetapi mampu menghadirkan aksi nyata dalam melestarikan dan mempromosikan kebudayaan Banua, terutama di kalangan generasi muda.
Pesan tersebut mengemuka dalam Grand Final Pemilihan Nanang dan Galuh Kalimantan Selatan 2026 yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel bersama Yayasan Nanang Galuh Kalimantan Selatan di Hotel Grand Maya, Banjarbaru, Sabtu (24/10/2026).
Gubernur Kalsel H. Muhidin melalui Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel, Muhammad Syarifuddin, menegaskan bahwa Nanang dan Galuh harus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menghidupkan kembali kearifan lokal. Menurutnya, masih banyak generasi muda yang belum mengenal kekayaan budaya daerahnya sendiri.
“Melalui pemilihan Nanang dan Galuh ini, nantinya mereka diharapkan dapat mengangkat budaya-budaya lokal. Masih banyak anak-anak kita yang belum mengetahui budaya sendiri. Dengan kegiatan positif yang diinisiasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, kita ingin kearifan-kearifan lokal ini dimunculkan kembali,” ujar Syarifuddin.
Ia menekankan, peran duta budaya harus diwujudkan melalui kegiatan berkelanjutan, bukan sebatas menghadiri acara seremonial. Karena itu, Nanang dan Galuh diharapkan aktif menjalankan program kebudayaan di kabupaten dan kota masing-masing, dengan penugasan serta indikator kinerja yang jelas.
“Pemerintah provinsi mendukung langkah Disdikbud menempatkan Nanang dan Galuh sebagai mitra kerja, lengkap dengan penugasan dan ukuran kinerja di kabupaten dan kota masing-masing,” tambahnya.
Selain memahami tradisi, kesenian, sejarah, dan nilai-nilai lokal, para duta budaya juga diharapkan menguasai bahasa Banjar agar mampu menyampaikan pesan kebudayaan secara dekat dengan masyarakat. Etika, tutur kata, dan empati turut menjadi perhatian, terutama ketika berinteraksi di ruang digital dan media sosial.
Kepala Disdikbud Kalsel, Abdul Rahim, menjelaskan Pemilihan Nanang dan Galuh Kalsel 2026 berlangsung pada 20–25 Oktober 2026 dengan melibatkan 40 peserta dari 12 kabupaten/kota. Mengusung tema “Kenali Budayanya, Hidupkan Ceritanya, Ciptakan Masa Depannya”, kegiatan ini diarahkan untuk melahirkan generasi muda yang berkarakter, kreatif, komunikatif, dan memiliki wawasan budaya.
Selama rangkaian kegiatan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai filosofi budaya, transformasi budaya digital, komunikasi budaya, wawasan pemerintahan, kewirausahaan berbasis budaya, hingga pengembangan aksi nyata. Penilaian mencakup enam aspek, yakni pengetahuan budaya, kualitas gagasan, karakter, kemampuan komunikasi, kreativitas digital, dan aksi nyata.
Dalam grand final tersebut, Muhammad Abdi Rahman dari Kabupaten Hulu Sungai Utara terpilih sebagai Nanang Kalsel 2026, sedangkan Shouma Hunafa dari Kota Banjarmasin dinobatkan sebagai Galuh Kalsel 2026.
Posisi Wakil I Nanang diraih Muhammad Faishal dari Kota Banjarmasin dan Wakil I Galuh oleh Nayla Amali dari Kabupaten Banjar. Wakil II Nanang diraih Nazril Wafa Pandya dari Kabupaten Banjar, sedangkan Wakil II Galuh diraih Nayshila Puspita dari Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Selanjutnya, Wakil III Nanang diraih Thariq dan Wakil III Galuh oleh Sasi Rasyida, keduanya dari Kota Banjarmasin. Wakil IV Nanang diraih Aldi Saputra dari Kabupaten Barito Kuala dan Wakil IV Galuh oleh Ayu Zahra dari Kabupaten Banjar. Sementara Wakil V Nanang diraih Hijrah Mubarak dari Kota Banjarbaru dan Wakil V Galuh oleh Tatia Mida Rahmawati dari Kabupaten Barito Kuala.
Para pemenang dan finalis diharapkan menindaklanjuti prestasi mereka dengan program konkret, mulai dari mengenalkan tradisi dan kesenian daerah kepada generasi muda, membuat konten edukasi budaya, berkolaborasi dengan sekolah dan sanggar seni, hingga mendorong kewirausahaan berbasis kebudayaan.
Dengan demikian, keberhasilan dalam ajang Nanang dan Galuh Kalsel 2026 tidak berhenti pada gelar dan seremoni. Para duta budaya diharapkan menjadi penggerak yang mampu menghubungkan warisan leluhur dengan kreativitas generasi masa kini, sekaligus menjaga agar kebudayaan Banua tetap hidup dan dikenal luas.
