BerandaDPRD KaltimHarapan Baru dari Timur:...

Harapan Baru dari Timur: Dorongan DPRD Kaltim untuk Percepatan Infrastruktur di Kabupaten Berau

Terbaru

Kabupaten Berau, sebuah wilayah di pesisir timur Kalimantan Timur, dikenal luas karena keindahan alamnya yang memikat. Laut biru jernih, gugusan pulau eksotis seperti Derawan, Maratua, dan Sangalaki telah menjadikan daerah ini sebagai magnet wisatawan dari berbagai penjuru, baik domestik maupun mancanegara. Namun, di balik pesona alam tersebut, tersimpan sebuah kenyataan yang kontras: permasalahan infrastruktur yang masih jauh dari harapan.

Salah satu tokoh yang menyoroti permasalahan ini dengan serius adalah Apansyah, anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur dari Daerah Pemilihan VI. Dalam berbagai kesempatan, ia menyampaikan keprihatinannya terhadap lambannya pembangunan infrastruktur di Berau, khususnya terkait kondisi jalan yang rusak dan proyek jembatan strategis yang mangkrak.

Menurut Apansyah, pembangunan infrastruktur di Berau seharusnya menjadi prioritas utama, mengingat potensi ekonominya yang sangat besar, terutama di sektor pariwisata. Ia menyebut bahwa aksesibilitas yang buruk telah menjadi penghalang utama dalam mengoptimalkan sektor ini.

“Kondisi jalan yang rusak parah dan belum layak di banyak titik membuat masyarakat lokal dan wisatawan kesulitan menjangkau destinasi unggulan di Berau. Ini sangat disayangkan, mengingat sektor pariwisata bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan,” ujarnya dalam pernyataan resmi.

Komisi III DPRD Kalimantan Timur, yang memiliki tugas dalam bidang pembangunan dan infrastruktur, menurut Apansyah, telah menetapkan fokus mereka dengan jelas: memperjuangkan percepatan pembangunan jalan dan konektivitas antarwilayah, khususnya untuk daerah-daerah yang masih tertinggal seperti Berau.

Salah satu proyek penting yang menjadi sorotan utama adalah pembangunan Jembatan Sei Nibung. Jembatan ini dirancang sebagai jalur penghubung strategis antara Kabupaten Berau dan wilayah Kutai Timur. Dengan rampungnya jembatan tersebut, diharapkan mobilitas masyarakat akan meningkat, distribusi logistik menjadi lebih efisien, dan jalur wisatawan menuju destinasi andalan di Berau semakin mudah diakses.

Namun sayangnya, hingga kini proyek Jembatan Sei Nibung masih belum menunjukkan perkembangan signifikan. Kondisinya terbengkalai, dan tidak ada kejelasan mengenai kelanjutan pembangunannya.

“Kita tidak bisa terus membiarkan proyek strategis seperti ini terhenti di tengah jalan. Jembatan Sei Nibung adalah kebutuhan mendesak. Jika diselesaikan, manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat luas, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun pariwisata,” tegas Apansyah.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa pembangunan infrastruktur bukan hanya sebatas urusan teknis atau proyek fisik semata. Ia melihatnya sebagai bentuk kehadiran dan keberpihakan negara terhadap kesejahteraan rakyat. Menurutnya, pemerataan pembangunan adalah bentuk nyata dari keadilan sosial.

“Ketika jalan-jalan diperbaiki, ketika jembatan dibangun dan menghubungkan daerah yang selama ini terisolasi, maka yang dibuka bukan hanya jalur transportasi, tapi juga peluang ekonomi, akses pendidikan, kesehatan, dan masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Apansyah juga menyoroti pentingnya sinergi antara berbagai tingkatan pemerintahan, mulai dari kabupaten, provinsi, hingga pusat. Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor dan lintas lembaga menjadi kunci utama dalam mengatasi keterlambatan pembangunan.

“Tidak cukup hanya menunggu dana dari pusat. Pemerintah daerah harus berinisiatif membangun komunikasi dan koordinasi yang intensif, membawa aspirasi masyarakat ke tingkat yang lebih tinggi, dan memperjuangkan alokasi anggaran yang memadai,” katanya dengan nada serius.

Dalam pandangannya, jika seluruh pemangku kepentingan dapat duduk bersama, menyatukan visi dan komitmen, maka percepatan pembangunan di Berau bukanlah hal yang mustahil. Apansyah menambahkan bahwa DPRD Kaltim siap menjadi pengawal dan pendorong utama agar proyek-proyek infrastruktur, khususnya di daerah-daerah potensial seperti Berau, menjadi prioritas dalam agenda pembangunan provinsi.

Ia optimis bahwa dengan fondasi infrastruktur yang baik, Berau memiliki peluang besar untuk tampil sebagai ikon pariwisata baru di Kalimantan Timur, bahkan di tingkat nasional. Potensi wisata bahari yang dimilikinya adalah aset luar biasa yang tidak dimiliki semua daerah. Namun tanpa akses yang memadai, potensi tersebut hanya akan tinggal dalam narasi tanpa realisasi.

“Berau bisa menjadi wajah baru pariwisata Indonesia. Tapi kita tidak bisa berharap banyak kalau akses ke destinasi unggulan saja masih sulit dijangkau. Oleh karena itu, kita mulai dari dasar: perbaikan jalan dan pembangunan jembatan. Itu kunci membuka gerbang besar menuju kemajuan,” pungkasnya penuh harapan.

Pernyataan Apansyah menjadi cermin semangat baru yang mulai tumbuh dari timur Indonesia. Harapan masyarakat Berau akan pembangunan yang merata dan berkeadilan kini bertumpu pada keberanian para pemimpin daerah untuk bertindak, berkolaborasi, dan berpihak pada kepentingan rakyat. Sebab di balik setiap ruas jalan yang diperbaiki, di balik setiap jembatan yang selesai dibangun, tersimpan masa depan yang lebih cerah bagi generasi yang akan datang. (adv)

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka