Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat telah melahirkan berbagai peluang baru, terutama bagi generasi muda yang tumbuh di era internet dan media sosial. Kalimantan Timur, sebagai salah satu wilayah yang tengah bersiap menuju peran strategis nasional, juga merasakan dampak gelombang digitalisasi yang menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Di tengah arus perubahan ini, muncul suara dari parlemen daerah yang mengingatkan pentingnya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pendidikan dasar manusia. Suara itu datang dari Sarkowi V Zahry, anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Timur.
Sarkowi, yang juga akrab disapa Owi, memberikan perhatian khusus terhadap fenomena meningkatnya minat generasi muda menjadi konten kreator di berbagai platform digital. Menurutnya, hal tersebut merupakan cerminan dari semangat baru generasi muda dalam mengekspresikan ide, kreativitas, sekaligus membangun potensi ekonomi secara mandiri. Ia memandang bahwa dunia digital membuka ruang luas bagi inovasi dan kemandirian finansial, yang jika dikelola dengan baik, bisa menjadi modal penting dalam pembangunan sumber daya manusia.
“Anak-anak muda kita sekarang luar biasa kreatif. Mereka punya semangat untuk berkarya, menciptakan sesuatu yang bisa dinikmati oleh jutaan orang, bahkan dari berbagai belahan dunia. Ini bukan sekadar tren, ini peluang ekonomi nyata,” ujarnya penuh apresiasi terhadap geliat digital generasi muda.
Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa di balik semua potensi tersebut, pendidikan formal tidak boleh dikesampingkan. Bagi Sarkowi, pendidikan tetap merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter, memperkuat daya saing, dan mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan yang semakin kompleks. Ia menekankan bahwa kreativitas yang tidak ditopang oleh pengetahuan dan etika yang baik dapat menjadi bumerang bagi pelakunya.
“Pendidikan bukan pilihan kedua. Ini pondasi utama yang tidak bisa digantikan. Anak muda boleh populer di media sosial, tetapi tanpa dasar pendidikan yang kuat, mereka akan kesulitan menghadapi tantangan di dunia kerja profesional,” jelasnya.
Menurut Sarkowi, banyak sektor formal—termasuk pemerintahan, pendidikan, dan industri strategis—yang mensyaratkan kualifikasi akademik sebagai prasyarat utama. Ia mencontohkan bahwa dalam proses rekrutmen pegawai negeri, guru, atau tenaga ahli di bidang tertentu, jenjang pendidikan adalah kriteria penting yang tidak bisa ditawar. Maka dari itu, anak muda yang mengandalkan popularitas digital semata akan menghadapi keterbatasan jika tidak membekali diri dengan pendidikan yang layak.
Ia menegaskan bahwa konten kreator yang memiliki latar belakang akademik cenderung lebih siap dalam menyampaikan pesan yang edukatif, membangun narasi yang etis, dan membuat keputusan berdasarkan pemahaman yang mendalam. Dengan kombinasi ini, kata Sarkowi, mereka tidak hanya bisa meraih sukses secara pribadi, tetapi juga berkontribusi lebih besar bagi masyarakat.
“Bayangkan jika konten yang mereka buat tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik, menginspirasi, dan membawa dampak positif bagi banyak orang. Itulah kekuatan sejati dari konten kreator yang punya bekal ilmu,” lanjutnya.
Dalam pandangannya, keberhasilan masa depan terletak pada kemampuan generasi muda dalam menggabungkan dua kekuatan besar: kreativitas dan kompetensi akademik. Bukan berarti anak muda tidak boleh menekuni dunia digital, tetapi mereka perlu diarahkan untuk tetap menjadikan pendidikan sebagai landasan utama. Sarkowi mengajak para pelajar, mahasiswa, dan bahkan orang tua untuk menyadari bahwa pendidikan bukanlah penghalang kreativitas, melainkan alat penguat yang mampu membawa kreativitas itu ke tingkat yang lebih tinggi dan berdaya guna.
Ia juga menyampaikan komitmennya sebagai wakil rakyat yang membidangi urusan pendidikan untuk terus mendorong lahirnya kebijakan yang memperkuat sistem pendidikan di Kalimantan Timur. Menurutnya, daerah ini memiliki potensi besar untuk mencetak generasi emas, asalkan diberi fasilitas dan dukungan yang memadai dalam proses belajar-mengajar, baik secara konvensional maupun berbasis teknologi.
“Kita tidak boleh kalah cepat. Dunia berubah, dan pendidikan kita juga harus berubah. Tapi yang paling penting, semangat belajar tidak boleh padam. Kreativitas boleh berkembang sejauh mungkin, tapi tetap harus berpijak pada nilai-nilai pendidikan,” tegasnya.
Ia percaya bahwa dengan sistem pendidikan yang terintegrasi dan berkualitas, generasi muda Kalimantan Timur tidak hanya akan mampu bersaing di tingkat nasional, tetapi juga menjadi bagian dari komunitas global yang aktif menciptakan perubahan. Menurutnya, dunia digital hanyalah salah satu panggung, dan pendidikan akan menentukan seberapa kuat seseorang bertahan dan berkembang di atas panggung tersebut.
Sebagai bagian dari upaya bersama, Sarkowi juga mengajak semua elemen masyarakat—terutama keluarga dan lembaga pendidikan—untuk menjadi garda depan dalam mendampingi generasi muda agar tetap memiliki pijakan nilai, etika, dan semangat belajar. Ia menekankan bahwa tanggung jawab membentuk karakter tidak hanya ada di tangan guru atau sekolah, tetapi juga harus menjadi peran aktif orang tua dan lingkungan sosial.
“Anak-anak kita butuh dukungan, bukan sekadar arahan. Kita harus hadir bersama mereka, mendampingi saat mereka meniti jalan yang penuh tantangan. Passion itu penting, tapi tanggung jawab akademik tidak boleh ditinggalkan,” pungkasnya.
Di tengah era disrupsi digital yang terus bergerak cepat, suara seperti Sarkowi V Zahry menjadi penyeimbang penting yang mengingatkan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak bisa hanya bertumpu pada tren sesaat. Perlu ada fondasi yang kokoh, yakni pendidikan, untuk menjadikan kreativitas sebagai kekuatan nyata dalam menciptakan masa depan yang lebih baik. (adv)


