Tapin – Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM-KM) Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM) berhasil menyelenggarakan Social Project 2025 di Desa Matang Batas, Kecamatan Hatungun, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, pada 4–6 Juli 2025, dengan tema besar: “Dari Alam untuk Kehidupan: Mewujudkan Pertanian Sehat dan Kreasi Produk Lokal Bernilai.”
Social Project ini menjadi bentuk pengabdian konkret mahasiswa kepada masyarakat, melalui berbagai kegiatan edukatif, aplikatif, dan inspiratif. Kegiatan tersebut fokus pada pembangunan pertanian berkelanjutan dan pemberdayaan ekonomi desa berbasis potensi lokal. Selain itu, acara ini mengimplementasikan salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat, yang menjadi kewajiban seluruh civitas akademika dalam menyebarkan ilmu pengetahuan ke masyarakat dan menjawab tantangan nyata di desa-desa Indonesia.
Kegiatan ini juga melibatkan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat, serta penelitian terapan untuk pengembangan dan uji coba teknologi lokal, seperti pupuk kandang plus dan pestisida nabati. Rangkaian kegiatan dibuka secara resmi pada 4 Juli 2025 oleh perangkat desa, disaksikan mahasiswa peserta Social Project, tokoh masyarakat, dan warga setempat.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Matang Batas, Muhammad Tohib, mengapresiasi inisiatif mahasiswa Fakultas Pertanian ULM. Ia berharap kegiatan tersebut menjadi momentum sinergi antara mahasiswa dan masyarakat desa untuk saling belajar dan berkembang bersama.

“Kami bangga menjadi tuan rumah kegiatan seperti ini. Semoga apa yang disampaikan dan dilakukan mahasiswa dapat bermanfaat serta berkelanjutan bagi masyarakat Desa Matang Batas,” ucap Muhammad Tohib.
Ia berharap, dengan hadirnya mahasiswa dapat membawa dampak positif.
“Harapan kami, kehadiran adik-adik mahasiswa membawa dampak positif bagi desa. Pemerintah Desa (PemDes) dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) mendukung penuh kedatangan adik-adik mahasiswa” Tuturnya.
Hal serupa disampaikan oleh Ketua BPD Matang Batas, Jumadi A., yang berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang belajar bagi mahasiswa, tetapi juga dapat mendorong peningkatan kapasitas masyarakat desa.
Keesokan harinya, 5 Juli 2025, kegiatan Social Project dilanjutkan dengan penyuluhan kepada para petani di Desa Matang Batas, khususnya petani padi dan karet. Materi penyuluhan meliputi pembuatan pestisida nabati dari bahan alami seperti serai dan bawang putih, serta pembuatan pupuk kandang plus yang diperkaya sekam dari kotoran sapi.
Ahmad Fateh Risky, selaku koordinator divisi acara panitia SocPro kegiatan menyampaikan, kegiatan yang mereka lakukan sebagai bentuk pemberitahuan bahwa sumber daya disekitar sangat potensial.
“Kami ingin para petani tahu bahwa sumber daya di sekitar mereka sangat potensial jika dimanfaatkan dengan tepat. Kami hanya ingin berbagi ilmu yang kami pelajari, dan semoga bisa memberikan dampak kecil yang berarti bagi pertanian di desa ini,” Katanya.
Penyuluhan tersebut disambut antusias oleh para petani, salah satunya adalah Pak Subandi, seorang petani senior di desa itu. Ia menyampaikan rasa terima kasih dan berharap materi yang diberikan dapat terus diterapkan.
Ia menilai bahwa penggunaan bahan alami dalam pertanian dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia serta lebih menguntungkan secara ekonomi.
“Hal ini baik karena menghemat biaya dan mengurangi penggunaan pupuk kimia,” ujarnya.
Kegiatan penyuluhan ini juga bertujuan menumbuhkan kesadaran petani akan pentingnya pertanian berkelanjutan dan penggunaan bahan alami dalam praktik harian. Selaras dengan itu, upaya ini turut menjaga kesehatan lingkungan serta menghasilkan produk pertanian yang lebih aman bagi konsumen.
Pada hari terakhir kegiatan, mahasiswa mengunjungi kebun kopi milik Pak Subandi dan unit pengolahan kopinya. Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa mempelajari proses budidaya tanaman kopi secara langsung, mulai dari penanaman hingga panen, serta proses pengolahan biji kopi menjadi produk siap jual. Selain itu, kegiatan dilanjutkan dengan penyuluhan tentang nilai tambah daun kopi yang diolah menjadi teh herbal, yang menyasar ibu-ibu PKK dan warga desa.
Materi ini bertujuan mendorong diversifikasi produk pertanian dan membuka peluang usaha rumahan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan mengenai teknik pengolahan, manfaat kesehatan, hingga strategi pemasaran produk teh daun kopi. Mahasiswa BEM-KM Faperta ULM berharap kegiatan ini dapat membangkitkan semangat kewirausahaan warga desa dan menjadi pintu masuk pengembangan ekonomi lokal berbasis potensi desa.
Pada hari ketiga pelaksanaan kegiatan, panitia Social Project bersama warga setempat melakukan kunjungan ke sebuah gua yang terletak tidak jauh dari permukiman. Gua tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata alam karena lingkungannya yang masih asri dan daya tarik geologisnya. Dalam kunjungan itu, dibahas peluang pemanfaatan gua sebagai objek ekowisata yang dikelola secara kolektif oleh masyarakat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Inisiatif ini diharapkan mendorong pengembangan sektor pariwisata desa dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Social Project 2025 ini menjadi bukti nyata peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Mereka tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga membumikan ilmu melalui praktik langsung bersama masyarakat. Koordinator Departemen Sosial Masyarakat BEM-KM Fakultas Pertanian ULM, Muhammad Raja Dharmakusuma, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan wujud kepedulian mahasiswa terhadap keberlanjutan sektor pertanian dan pemberdayaan masyarakat desa, dengan semangat “Dari Alam untuk Kehidupan.”
Muhammad Rafi Akbar, Ketua BEM-KM Faperta ULM, turut memberikan tanggapan mengenai kegiatan ini. Ia menyatakan, social Project 2025 adalah manifestasi dari nilai-nilai yang mereka bawa sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian.
“Yaitu turun langsung ke masyarakat, memahami kebutuhan nyata mereka, dan mencoba memberi solusi berbasis ilmu pengetahuan. Kami ingin agar kehadiran mahasiswa bukan hanya dirasakan secara simbolis, tetapi benar-benar memberikan dampak yang berkelanjutan,” Jelasnya.
Sementara itu, Immanuel Stivent Winarta, Ketua Pelaksana Social Project 2025, menyampaikan harapannya atas keberlanjutan dampak kegiatan ini, dia mengatakan bahwa mereka melihat potensi besar masyarakat Desa Matang Batas.
“Kami melihat potensi besar masyarakat Desa Matang Batas, terutama dalam pengolahan hasil pertanian dan pengembangan wisata desa. Melalui kegiatan ini, kami ingin membuka ruang kolaborasi yang tidak hanya berhenti setelah program selesai, tetapi terus berlanjut dalam bentuk pendampingan dan jejaring kerja yang lebih luas. Penyuluhan ini juga bertujuan memperluas pengetahuan petani, khususnya mengenai pertanian organik. Dengan menggunakan pupuk kandang plus yang berasal dari limbah kotoran sapi dan sekam, tanaman petani akan lebih subur, sehingga petani tidak perlu membeli pupuk kimia dan bahkan bisa menjual kelebihan pupuk kandang plus. Pembuatan pestisida nabati juga bermanfaat untuk mengurangi limbah kimia yang mencemari tanah, serta mengurangi limbah sisa dapur,” Ungkapnya.
Social Project 2025 bukan sekadar kegiatan pengabdian tiga hari, melainkan perjumpaan antara ilmu dan kenyataan, antara generasi muda dan akar desa. Di lahan yang tampak biasa itulah mahasiswa menemukan makna baru tentang pertanian dan kehidupan. Di balik tawa warga dan antusiasme para ibu PKK, tersimpan semangat yang tidak dapat diajarkan di ruang kelas.
Kini saatnya langkah kecil tersebut dijadikan gerakan besar. BEM-KM Faperta ULM membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara akademisi, pemerintah desa, dan pihak swasta untuk meneruskan sinergi ini. Semoga Matang Batas tidak menjadi satu-satunya cerita sukses, melainkan awal dari banyak desa lain yang bangkit bersama semangat “Dari Alam untuk Kehidupan.”


