BerandaHabar BanjarPemkab Banjar Soroti Anomali...

Pemkab Banjar Soroti Anomali Stunting, Luncurkan Inovasi GEOLASTING

Terbaru

BANJARBARU — Pemerintah Kabupaten Banjar menggelar Rapat Koordinasi (Rakoor) Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP3S) sekaligus Launching dan Sosialisasi GEOLASTING (Geospasial untuk Kolaborasi Atasi Stunting), yang dilaksanakan di Ruang Berlian Grand Qin Hotel, Banjarbaru, Selasa (7/10/2025).

Kegiatan ini turut dihadiri oleh para camat, kepala puskesmas, serta perwakilan dari berbagai instansi dan organisasi perangkat daerah (OPD) yang berperan dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Banjar.

Dalam kesempatan tersebut, dilakukan penandatanganan komitmen bersama sebagai wujud keseriusan seluruh pihak untuk menurunkan angka stunting di Kabupaten Banjar.

Wakil Bupati Banjar, H. Said Idrus Al-Habsyi, dalam wawancaranya menyampaikan harapan agar komitmen bersama ini dapat memperkuat langkah konkret dalam mengatasi persoalan stunting di daerah.

“Mudah-mudahan dengan adanya komitmen bersama ini, apa yang kita cita-citakan untuk menurunkan angka stunting di Kabupaten Banjar dapat segera terwujud,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa angka stunting di Kabupaten Banjar sempat mengalami penurunan, namun kini kembali meningkat menjadi 32,2 persen pada tahun 2024. Karena itu, ia menekankan pentingnya sinergi di semua lini, terutama peran para camat dan tenaga kesehatan di puskesmas sebagai ujung tombak pelaksanaan dan pengukuran stunting di lapangan.

“Dengan kerja sama yang kuat di semua lini, insyaallah target penurunan stunting dapat tercapai,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bappedalitbang Kabupaten Banjar, Nashrullah Shadiq, menjelaskan bahwa kegiatan rakor ini sekaligus menjadi momentum peluncuran inovasi GEOLASTING, yaitu sistem berbasis geospasial yang dikembangkan oleh Bappedalitbang untuk mendukung kolaborasi lintas sektor dalam penanganan stunting.

“GEOLASTING ini memanfaatkan data spasial untuk menentukan area-area prioritas yang akan diintervensi dalam rangka percepatan penurunan stunting,” terangnya.

Menurutnya, intervensi akan dilakukan secara menyeluruh di seluruh kecamatan, dengan fokus pada wilayah yang masih memiliki angka stunting tinggi seperti Sungai Tabuk, Astambul, dan Aluh-Aluh. Setelah kegiatan ini, rencananya akan dilanjutkan dengan aksi bersama lintas SKPD sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.

Selain itu, pada tahun 2026 akan dilakukan monitoring dan evaluasi (MONEP) terhadap intervensi yang telah berjalan, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah maupun oleh instansi vertikal seperti BKKBN, serta dukungan dari Dinas P3A, P2KB, dan TPPS Provinsi.

Nashrullah juga menyoroti adanya anomali di Kabupaten Banjar, di mana tingkat kemiskinan tergolong rendah dan pertumbuhan ekonomi cukup baik dibanding kabupaten lain, namun angka stunting justru masih tinggi.

“Dari hasil penelitian, penyebab utamanya kemungkinan besar berkaitan dengan pola asuh, terutama setelah anak lepas dari ASI eksklusif. Pada masa inilah sering muncul permasalahan dalam pemberian makan dan pengawasan gizi,” jelasnya.

Ia berharap, melalui kolaborasi yang kuat dan pemanfaatan teknologi seperti GEOLASTING, permasalahan stunting di Kabupaten Banjar dapat segera diatasi.

“Stunting berpengaruh langsung terhadap kualitas sumber daya manusia kita di masa depan. Karena itu, kita semua punya tanggung jawab untuk menurunkan angka stunting ini,” pungkasnya.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka