BerandaHabar Tanah LautKasus Preeklamsia di Tanah...

Kasus Preeklamsia di Tanah Laut Menurun, Dinkes Tingkatkan Edukasi Ibu Hamil

Terbaru

Kasus Preeklamsia di Tanah Laut Menurun, Dinkes Tingkatkan Edukasi Ibu Hamil

Tanah Laut – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tanah Laut mencatat penurunan kasus preeklamsia dalam dua tahun terakhir seiring peningkatan kualitas layanan kesehatan dan edukasi kepada ibu hamil.

Kepala Dinkes Tanah Laut, dr. Hj. Isna Farida, M.Kes., mengatakan pemerintah terus memperkuat pelayanan kesehatan ibu hamil, termasuk mewajibkan minimal enam kali pemeriksaan selama masa kehamilan.

Hal tersebut disampaikan saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (11/05/2026).

“Pada 2024 terdapat lebih dari 100 kasus preeklamsia. Kemudian menurun menjadi 84 kasus pada 2025, dan hingga April 2026 tercatat sebanyak 17 kasus,” ujarnya.

Menurutnya, persentase kasus preeklamsia juga mengalami penurunan dari 1,67 persen pada 2024 menjadi 1,36 persen pada 2025.

Ia menjelaskan, preeklamsia merupakan komplikasi kehamilan yang umumnya ditandai tekanan darah tinggi. Sebelumnya, kondisi tersebut dikenal melalui tiga gejala utama, yakni hipertensi, protein dalam urine, dan pembengkakan atau edema. Namun kini diagnosis dapat ditegakkan meski hanya ditemukan salah satu gejala.

Sementara itu, eklamsia merupakan kondisi yang lebih serius ketika ibu hamil mengalami kejang selama masa kehamilan.

“Kalau sudah terjadi kejang pada ibu hamil, itu sudah masuk eklamsia dan harus segera mendapatkan penanganan medis,” katanya.

Untuk mendeteksi risiko preeklamsia sejak dini, tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan Mean Arterial Pressure (MAP). Nilai MAP di atas 90 menjadi salah satu indikator adanya risiko preeklamsia.

Preeklamsia, lanjutnya, dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang berdampak pada berkurangnya asupan nutrisi bagi janin. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah.

Selain riwayat hipertensi, sejumlah faktor lain juga dapat meningkatkan risiko preeklamsia, termasuk perubahan pasangan yang memicu respons tubuh terhadap “benda asing” baru.

Meski demikian, kondisi tersebut masih dapat ditangani apabila terdeteksi sejak awal kehamilan dan ibu rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.

“Deteksi dini sangat penting. Karena itu ibu hamil harus rutin kontrol agar kondisi ibu dan janin dapat terus dipantau,” ujarnya.

Dinkes Tanah Laut juga terus memberikan edukasi mengenai preeklamsia dan eklamsia melalui posyandu maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Selain edukasi, pemerintah turut menyediakan layanan kesehatan gratis bagi ibu hamil, termasuk pemeriksaan ultrasonografi (USG) di sejumlah puskesmas untuk memastikan kesehatan ibu dan bayi selama masa kehamilan.

Melalui peningkatan pelayanan dan edukasi tersebut, Dinkes Tala berharap angka komplikasi kehamilan di Kabupaten Tanah Laut dapat terus ditekan sehingga keselamatan ibu dan bayi lebih terjamin.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka