BANJARBARU – Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP3S) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) di Hotel Rodhita, Banjarbaru, pada Kamis (4/12/2025). Pertemuan ini menjadi momentum krusial untuk mengevaluasi aksi konvergensi serta memvalidasi data cakupan layanan di tingkat kecamatan demi menekan angka stunting yang masih tergolong tinggi.
Kepala Bappedalitbang Kabupaten Banjar, Nashrullah Shadiq, mengungkapkan bahwa fokus utama rakor ini adalah mengevaluasi input data cakupan layanan yang dikomandoi oleh para Camat, dengan melibatkan Puskesmas dan Penyuluh KB.
”Inti pertemuan hari ini adalah memetakan kecamatan mana yang input datanya sudah lengkap dan mana yang belum. Hal ini penting mengingat status stunting kita masih cukup tinggi dibanding daerah lain,” ujar Nashrullah.
Menurutnya, kelengkapan data menjadi kunci intervensi yang tepat sasaran. Jika data valid, pemerintah dapat mendeteksi layanan spesifik yang cakupannya masih rendah, seperti pemberian Tablet Tambah Darah, untuk segera ditindaklanjuti.
”Kami berharap jika cakupan layanan kepada masyarakat terpenuhi, khususnya pada keluarga berisiko, angka stunting akan turun,” tambahnya.
Nashrullah juga menyebutkan adanya wacana pemberian penghargaan (reward) bagi petugas di tingkat desa sebagai penyemangat, meskipun hal tersebut masih dalam tahap diskusi dan persetujuan pimpinan.
Di sisi lain, Kepala Dinas Sosial P3AP2AKB Kabupaten Banjar, Erny Wahdini menekankan pentingnya sinergitas antar-SKPD hingga kader di desa. Ia menyoroti bahwa kendala utama penurunan stunting saat ini bukan lagi pada kurangnya fasilitas pemerintah, melainkan faktor perilaku masyarakat.
”Kalau dari sisi pemerintah, intervensinya sudah luar biasa. Teman-teman di lapangan seperti Puskesmas dan PLKB sudah melakukan sistem ‘jemput bola’ mendatangi sasaran. Namun, tantangannya ada pada perilaku dan kesadaran masyarakat yang perlu diedukasi lagi,” jelas Erny.
Ia mencontohkan cakupan ASI Eksklusif yang masih berada di bawah angka 60 persen serta kepatuhan minum Tablet Tambah Darah yang masih rendah sebagai faktor sensitif penyumbang stunting.
Terkait pemetaan wilayah, Erny menyebutkan sebaran kasus stunting hampir merata, namun ada dua wilayah yang mendapat perhatian khusus.
”Berdasarkan data, ada wilayah yang membutuhkan penanganan lebih intensif, yaitu Kecamatan Paramasan dan Sungai Tabuk. Langkah konkretnya akan kami pastikan setelah melihat hasil evaluasi data hari ini secara menyeluruh,” pungkasnya.

