Ketidak Jelasan Data Desil Bikin Bingung, Banyak Warga Miskin di Daerah Tak Tersentuh Bansos
KOTABARU – Sengkarut mararut penyaluran bantuan sosial (Bansos) akibat ketidak akuratan data kembali memicu keluhan di tengah masyarakat. Banyak warga yang tergolong miskin dan sangat membutuhkan uluran tangan pemerintah justru tidak terdaftar sebagai penerima manfaat, diduga kuat akibat pengelompokan data Desil yang tidak jelas dan tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
Desil merupakan pembagian kelompok kesejahteraan rumah tangga dari desil 1 (terendah/sangat miskin) hingga desil 10 (tertinggi). Namun, proses verifikasi dan validasi data ini dinilai lambat dan kurang transparan, membuat warga prasejahtera terjebak dalam ketidak pastian.
Data Desil yang kontradiktif, masalah karut-marut data ini memicu berbagai persoalan krusial di tingkat bawah. Salah sasaran pemeringkatan: Warga dengan rumah tidak layak huni sering kali terlempar ke desil tinggi (dianggap mampu), sementara oknum yang memiliki aset lebih justru masuk ke desil rendah.
Kesenjangan Informasi, Pihak RT dan desa kerap kesulitan menjelaskan kepada warga mengapa nama mereka mendadak hilang atau tidak pernah muncul dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Konflik sosial di tingkat bawah, Perbedaan data pusat dan realita lapangan memicu kecurigaan antar warga serta protes keras kepada aparat desa yang menjadi garda depan pelayanan.
Sarmidi warga desa Dirgahayu mendesak adanya transparansi penuh dalam proses penentuan status desil ini. Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan pemutakhiran data secara langsung (real-time) guna menyisir warga miskin yang selama ini tidak terlihat oleh sistem administrasi pusat.
“Kami berharap data penerima bantuan diperbaiki dan diverifikasi kembali agar bantuan benar-benar diterima oleh masyarakat yang membutuhkan,” ujar Sarmidi penuh kecewa
Penulis M.Nasaruddin
