KPA Kabupaten Banjar Latih Kader Posyandu Jadi Ujung Tombak Penanggulangan HIV
MARTAPURA — Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Banjar menggelar kegiatan pelatihan peer education bagi kader Posyandu di Aula Kecamatan Martapura, Kamis (10/9/2026). Pelatihan ini ditujukan untuk memperkuat edukasi, sosialisasi, serta penjangkauan kasus HIV/AIDS langsung di tingkat tapak.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, H Noripansyah, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tahunan ini. Menurutnya, kader Posyandu memiliki peran strategis sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam menyebarkan informasi kesehatan secara lebih mendalam kepada warga.
“Melalui peningkatan peer education ini, kita ingin meningkatkan pengetahuan dan edukasi bagi para kader kesehatan, khususnya kader Posyandu. Nantinya, kader bisa menyampaikan informasi secara lebih deep ke masyarakat. Mereka adalah ujung tombak kita dalam menyebarkan ilmu,” ujar Noripansyah.
Ia menekankan bahwa penanganan HIV/AIDS masih menghadapi tantangan fenomena gunung es, di mana jumlah kasus terlaporkan umumnya lebih sedikit daripada kondisi riil di lapangan. Oleh karena itu, penguatan edukasi di tingkat masyarakat menjadi krusial.
Sementara itu, Sekretaris KPA Kabupaten Banjar, Wahyu, menjelaskan bahwa pelatihan kali ini menyasar para kader Posyandu di wilayah Kecamatan Martapura dan sekitarnya. Kader diposisikan sebagai garda terdepan untuk melakukan penjangkauan dan pendampingan.
Secara akumulasi, kenaikan kasus HIV di Kabupaten Banjar saat ini berada di bawah 5%. Meski demikian, data menunjukkan bahwa temuan kasus didominasi oleh kelompok usia produktif pada rentang 17–35 tahun.
“Fokus kita adalah mempertahankan kondisi dan menekan penambahan kasus baru. Angka pasti masih terus berjalan karena harus diakumulasi dan dikonfirmasi dulu dengan seluruh penyedia layanan kesehatan, mulai dari rumah sakit, dinas kesehatan, hingga Puskesmas di seluruh Kabupaten Banjar,” jelas Wahyu.
Tantangan utama penanggulangan di lapangan mencakup bentang geografis Kabupaten Banjar yang luas dengan 20 kecamatan, sehingga keterlambatan deteksi dini kerap terjadi. Selain itu, upaya ini diarahkan untuk mencapai target nasional Three Zero, yaitu:
Zero new infection: Tidak ada penularan baru.
Zero AIDS-related death: Tidak ada kematian akibat AIDS.
Zero discrimination: Tidak ada lagi stigma dan diskriminasi.
Wahyu menegaskan bahwa penghapusan stigma sosial masih menjadi tantangan terberat. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak panik dan memahami jalur penularan HIV secara benar.
“Secara medis, HIV hanya menular melalui hubungan seksual berisiko, kontak darah, dan cairan tubuh tertentu. HIV tidak menular melalui kontak sosial sehari-hari seperti makan atau minum menggunakan gelas yang sama, menggunakan bantal yang sama, maupun lewat gigitan nyamuk,” tegasnya.
Menutup keterangannya, KPA mengimbau generasi muda, khususnya di Martapura, untuk memegang teguh ajaran agama dan adat istiadat, menjaga pergaulan, serta menghindari konsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang yang berpotensi memicu perilaku seksual berisiko.

