Banjarbaru – Sebanyak 125 siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 9 Banjarbaru kembali menjalani kehidupan berasrama setelah libur hampir satu bulan. Memasuki tahun ajaran baru, sekolah memprioritaskan pembentukan kembali disiplin dan karakter siswa melalui Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) yang berlangsung pada 3–7 Agustus 2026.
Kepala SRT 9 Banjarbaru, Rifki Hakim, mengatakan para siswa sebenarnya telah kembali ke asrama sejak 29 Juli 2026. Sebelum pembukaan resmi MPLS, mereka terlebih dahulu mengikuti kegiatan kesamaptaan sebagai tahap adaptasi agar kembali terbiasa dengan rutinitas di lingkungan asrama.
“Anak-anak sudah datang sejak 29 Juli. Pada 30 Juli mereka mengikuti kesamaptaan untuk merefresh kembali kegiatan keasramaan yang sudah dijalani selama satu tahun agar tidak kaget saat kembali ke asrama,” ujar Rifki di Banjarbaru, Senin (3/8/2026).

Selama pelaksanaan MPLS, para siswa mendapat pendampingan Taruna Akademi Kepolisian yang ditugaskan pemerintah untuk mendukung kegiatan serupa di Sekolah Rakyat di berbagai daerah di Indonesia.
Pendampingan tersebut difokuskan pada pembiasaan kembali kehidupan berasrama, mulai dari kedisiplinan, kebersihan, ketertiban, pembentukan karakter, hingga latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB). Siswa juga akan memperoleh materi edukasi dari sejumlah instansi, di antaranya Badan Narkotika Nasional (BNN) dan lembaga perlindungan anak.
Menurut Rifki, masa libur yang cukup panjang membuat sebagian siswa harus kembali menyesuaikan diri dengan aturan dan ritme kehidupan di asrama setelah terbiasa berada di lingkungan keluarga.
“Seolah-olah kami harus mereset kembali pembinaan yang sudah dilakukan selama satu tahun. Karena pengaruh lingkungan saat di rumah cukup besar, maka di awal ini kami fokus membangun kembali kebiasaan positif mereka,” katanya.
Untuk memastikan pembinaan tetap berjalan selama masa liburan, pihak sekolah melaksanakan program home visit. Kunjungan yang semula direncanakan tiga kali ditingkatkan menjadi lebih dari tiga kali agar perkembangan siswa dapat dipantau lebih optimal.
Kegiatan tersebut dilakukan oleh wali asuh, wali asrama, dan guru dengan mengunjungi langsung rumah siswa, termasuk yang berada di wilayah cukup jauh seperti Aluh-Aluh. Selain itu, siswa juga diminta mengisi jurnal aktivitas selama libur sebagai bahan evaluasi, sementara komunikasi dengan orang tua terus dijalin agar pembinaan tetap berlanjut di rumah.
Rifki menegaskan, sekolah tidak akan langsung memberikan pembelajaran akademik secara penuh pada pekan pertama. Fokus utama adalah mengembalikan kenyamanan siswa menjalani pola hidup berasrama sehingga mereka siap mengikuti proses belajar mengajar.
“Kami meminta guru dan tenaga kependidikan tidak langsung mengejar pembelajaran. Yang paling penting mereka kembali nyaman dengan pola asrama. Setelah itu baru pembelajaran berjalan seperti biasa, dan kami sudah menyiapkan strategi untuk mengejar ketertinggalan waktu belajar,” jelasnya.
Ia juga memastikan pelaksanaan MPLS berlangsung sesuai ketentuan pemerintah tanpa praktik perundungan, perploncoan, maupun tindakan yang mengandung unsur kekerasan. Aktivitas fisik yang diberikan hanya berupa latihan PBB, permainan edukatif, dan pembinaan kebugaran.
Sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kesehatan jasmani, seluruh siswa setiap pagi rutin melaksanakan jogging bersama seusai salat Subuh mengelilingi kawasan balai sebelum memulai aktivitas belajar. Rutinitas tersebut diharapkan mampu membentuk kedisiplinan, menjaga kebugaran, sekaligus memperkuat karakter siswa selama menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 9 Banjarbaru.
