Tanah Laut – Ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah rawa dan permukiman padat mendorong mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bergerak langsung ke tengah masyarakat. Melalui Program Bina Desa Berdampak, mereka menginisiasi gerakan “Rumah Sehat Bebas Nyamuk Aedes aegypti” di Desa Benua Raya, Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut.
Sebanyak 15 mahasiswa gabungan dari Fakultas MIPA dan Fakultas Kehutanan diterjunkan dalam program ini, dengan pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Muhamat, S.Si., M.Sc. Kegiatan ini tidak sekadar pengabdian, tetapi juga menjadi wadah implementasi keilmuan berbasis solusi nyata di lapangan.
Ketua kelompok, Maulida, mengungkapkan bahwa kondisi geografis desa yang didominasi lahan rawa serta kepadatan permukiman menjadi faktor risiko berkembangnya nyamuk Aedes aegypti. Data tahun 2024 yang mencatat tiga kasus DBD di desa tersebut semakin memperkuat urgensi program ini.

“Kami melihat perlunya intervensi berbasis edukasi dan aksi langsung agar masyarakat mampu menciptakan lingkungan rumah yang sehat dan bebas dari nyamuk penyebab DBD,” jelasnya.
Program dirancang secara bertahap dan berbasis kebutuhan masyarakat. Dimulai dari survei lapangan pada 29 November 2025, dilanjutkan pelatihan internal bersama dosen pembimbing, hingga pembukaan dan sosialisasi kepada warga pada 13 Desember. Kegiatan berlanjut dengan penanaman bibit serai wangi pada 14 Desember serta monitoring berkala hingga 11 Januari 2026.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa mengombinasikan pendekatan edukatif dan praktis. Warga diberikan pemahaman mengenai siklus hidup dan bahaya nyamuk Aedes aegypti, dilatih membuat perangkap nyamuk sederhana dari bahan mudah didapat, serta diajak menanam serai wangi sebagai tanaman pengusir alami.
Tak hanya itu, mahasiswa juga melakukan survei lingkungan, pendampingan langsung, hingga evaluasi efektivitas metode yang diterapkan. Hasilnya, partisipasi masyarakat tergolong tinggi.
“Respons warga sangat positif. Pemerintah desa dan masyarakat terlibat aktif sejak awal hingga tahap monitoring,” kata Maulida.
Program ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya mengaplikasikan ilmu ekologi lingkungan, tetapi juga mengasah kemampuan komunikasi publik, kerja tim, serta pemecahan masalah berbasis sains.
Sementara bagi masyarakat, program ini membawa dampak nyata dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah preventif terhadap DBD.
Ke depan, ULM memastikan program serupa akan terus berlanjut melalui integrasi dalam skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan pengabdian kepada masyarakat. Evaluasi berkala serta sistem regenerasi akan dilakukan agar manfaat program tetap berkesinambungan dan dapat direplikasi di wilayah lain.

